Sunday, 25 October 2015
NASEHAT RASULULLAH SAW UNTUK PARA ISTRI
NASEHAT RASULULLAH SAW UNTUK PARA ISTRI
1. Menerima dengan ikhlas kepemimpinan suami dan qanaah
kepadanya
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan
karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka
wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (An-Nisa: 34)
“…. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami
mempunya kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah:
228)
2. Keridhaan suami atas sikap istri adalah pintu surga
bagi istri
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab:
“Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rasulullah lagi. Ia
menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku
tidak mampu.” Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam
pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad
dan selainnya)
“Jika wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di
bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dikatakan
kepadanya (pada hari Kiamat): ‘Masuklah ke dalam Surga dari pintu manapun yang
kamu suka’”. (HR. Ahmad)
3. Mentaati suami, kecuali dalam perkara maksiat
“Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ahmad)
“Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui
dan yakini) nusyuznya maka hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan
mereka di tempat tidur, dan memukul mereka. Kemudian jika
mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk
menyusahkan mereka.” (An-Nisa`: 34)
“Rasulullah SAW pernah ditanya tentang isteri yang baik. Beliau
menjawab: Apabila diperintah, ia selalu taat, apabila dipandang menyenangkan, dan
ia selalu menjaga diri dan harta suami (manakala suaminya tidak ada)” (HR. Nasa`i)
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah
seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak
ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri
tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim)
Tidaklah seorang mukmin mengambil manfaat setelah
ketakwaan kepada Allah SWT yang lebih baik daripada istri shalihah: jika ia
menyuruhnya, ia mentaatinya; jika ia memandangnya, ia menyenangkan hatinya; jika
ia bersumpah kepadanya, ia menunaikan sumpahnya; dan jia ia sedang pergi
darinya, ia memelihara kesucian diri dan menjaga harta suaminya.” (HR. Ibnu
Majah)
4. Membantu suami dalam menegakkan agama dan memelihara
kehormatannya
“Harta yang utama adalah lisan yang senantiasa berdzikir,
hati yang senantiasa bersyukur dan istri beriman yang membantu suami dalam
menegakkan bangunan imannya”. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
“Wanita itu pemimpin di rumah suaminya.” (HR.
Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi)
“Sebaik-baiknya istri kalian ialah yang penuh kasih
dan taat terhadap suaminya jika mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuk-buruk
istri kalian ialah yang bersolek dan banyak akal (untuk memperdaya suaminya); mereka
adalah munafik, yang tidak akan masuk Surga dari mereka kecuali seperti gagak
yang kedua kaki dan paruhnya berwarna merah.” (HR. Abu Nu’aim)
“Wanita manapun yang menanggalkan pakaiannya di
selain rumahnya, maka Allah merusak tabir-Nya darinya.” (HR. At-Tirmidzi)
5. Tidak keluar rumah kecuali atas izin suami
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah
kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan
dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. ….” (Al-Ahzab:
33)
“…..janganlah ia keluar rumah dalam keadaan suaminya
tidak ridha.” (HR. Baihaqi dan Hakim)
“Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin
untuk pergi ke masjid, maka janganlah menghalanginya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan
yang lainnya)
“Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama dari
shalatnya di kamarnya, shalatnya di bilik khususnya lebih utama dari shalatnya
di rumahnya.” (HR. Abu-Dawud)
6. Tidak berpuasa sunnah kecuali atas izin
suami
“Tidak halal bagi wanita melaksanakan puasa, sedangkan
suaminya ada di rumah, kecuali dengan seizinnya.” (HR. Al-Bukhari, dan Muslim)
7. Tidak menyakiti suami serta tidak menuntut
kepadanya sesuatu yang tidak dibutuhkan dan melebihi kesanggupannya
“Tidaklah seorang wanita menyakiti hati suaminya di
dunia, melainkan istrinya yang berasal dari kalangan bidadari berkata: ‘Jangan
sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu. Ia hanyalah seorang yang lemah yang
nyaris meninggalkanmu (untuk pergi) kepada kami’ ” (HR. At-Tirmidzi)
“Ridhalah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya
engkau menjadi manusia paling kaya.” (HR. Al-Bukhari)
“Allah tidak memandang seorang wanita yang tidak
berterima kasih kepada suaminya, padahal dia butuh kepadanya.” (HR. An-Nasai)
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali
melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas
penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi
mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan
kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah para wanita itu
kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab: “(Tidak, melainkan) mereka kufur
kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik
kepada salah seorang dari mereka pada suatu masa, kemudian suatu saat ia
melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan
berkata: ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
8. Tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke
rumah suami kecuali dengan izin suami
“Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri
kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka
adalah mereka tidak boleh membiarkan seorang yang tidak kalian sukai untuk
menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian
benci untuk memasuki rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah
kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.” (HR.
At-Tirmidzi dan Ibn Majah)
9. Tidak boleh menginfaqkan sebagian hartanya
kecuali atas izin suami
KEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN ORANG YANG BERTAQWA
KEUTAMAADAN KEDUDUKAN ORANG YANG BERTAQWA
Taqwa di dalam kamus Ilmu Alquran dapat diartikan dengan
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kalau ada orang yang
paling mulia dialah yang paling bertaqwa kepada Allah swt, kalau ada yang
paling beruntung dialah orang yang bertakwa, kalau ada yang manusia yang paling
hati-hati menapaki jalan hidup yang dilaluinya dialah orang yang bertaqwa,
kalau ada orang yang paling waspada menjaga keluarganya agar tidak terjerumus
kedalam lumpur dosa dialah orang yang bertakwa. Tingkah laku orang yang
bertaqwa selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari
hal-hal yang menjadikan Allah murka.
Allah swt berfirman, yang artinya :
”Kebajikan itu
bukanlah menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat, tetapi kebajikan itu ialah
(kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allâh, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang
dalam perjalnan (musafir), peminta-minta dan utuk memerdekakan hamba sahaya,
yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
ketika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan
masa perang. Maka mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah
orang-orang yang benar-benar bertaqwa”(QS al-Baqarah [2]: 177)
Oleh karenanya orang-orang bertaqwa memiliki kedudukan
dan keutamaan tersendiri, meraih derajat yang tinggi dihadapan Allah swt.
Berikut ini beberapa keutamaan dan kedudukan orang-orang yang bertaqwa :
1. Yang
bertaqwa adalah yang termulia di sisi Allah swt
Allah swt mendudukkan pribadi-pribadi bertaqwa meraih
derajat kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya.
Seperti yang tertulis dalam firman Allah yang artinya :
“Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[QS. Al-Hujurat (49) : 13]
Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad; “Wahai
sekalian manusia, sesunggunya Tuhan kalian adalah satu, ayahanda kalian adalah
satu, ingatlah..! tidak ada keutamaan lebih bagi orang arab atas selain mereka,
tidak pula bagi non arab atas orang-orang arab, tidak pula yang berkulit merah
lebih utama dari yang berkulit hitam tidak pula yang berkulit hitam lebih utama
dari yang merah, tak lain yang membuat lebih utama melainkan karena taqwa”. (HR.
Imam Ahmad)
Maka bagi siapapun yang ingin meraih kemuliaan tertinggi
disisi-Nya, hal itu tidak akan dicapai dengan sekedar harta, kemewahan, ataupun
keturunan yang banyak, namun hanya dengan taqwa.
2. Orang-orang
bertaqwa adalah para wali dan kekasih Allah swt
Orang-orang yang dalam dirinya bersemayam ketaqwaan akan
menjadi wali sekaligus kekasih Allah swt. Begitu tegas Allah menyatakan dalam
firman-Nya bahwa Dia mencintai orang-orang bertaqwa;
“(Bukankah
demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa,
maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. [Qs. Ali Imran(3)
: 76]
3. Meraih Ma`iyyatullah
Dengan ketakwaanya, pribadi bertaqwa akan dicintai Allah
swt, dengan cinta-Nya, Allah akan senantiasa menganugerahkan mai`iyyah-Nya (kebersamaan-Nya), inilah
kesertaan dan kebersamaan khusus yang Allah berikan kepada mereka orang-orang
yang bertaqwa,
Seperti yang tertulis dalam surat QS. Al-Baqarah ayat
194, yang artinya :
“dan bertaqwaah
kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
bertaqwa” [QS. Al-Baqarah(2) : 194]
Tentunya tidak ada kebersamaan yang lebih nikmat, tidak
ada kesertaan yang lebih indah, tidak ada kedekatan yang lebih syahdu daripada
ketika seorang hamba sedang merasa dekat dengan Tuhannya, merasa Allah swt
sesantiasa menyertai dalam setiap langkahnya dalam menapaki jalan kehidupan
ini. Maka dia akan berjalan mengarungi kehidupan ini; segala yang akan dia
lalui dia lewati, semua itu dengan ketaqwaannya akan ia tempuh dengan
ma`iyyatullah.
4. Dimudahkan
urusannya
Allah subhanahu wa ta`aala telah menegaskan dalam
firman-Nya, yang artinya :
“Adapun orang
yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan
yang mudah”.[QS. Al-Lail (92) : 5-7]
Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang gemar
berbagi, mereka mau mencurahkan sebagian harta yang mereka miliki untuk
kepentingan fi sabilillah, sanggup memberi di saat lapang maupun sempit, di
waktu mudah maupun sulit, semua itu karena mereka benar-benar yakin akan adanya
balasan syurga, maka kelak Allah akan memberi
balasan yang baik dari apa yang telah mereka lakukan dan akan menyediakan
jalan kemudahan bagi mereka dalam melakukan berbagi kebaikan .
Jika kita melakukan perbuatan dengan didasari iman dan
dibingkai dengan nilai ketaqwaan kepada Allah swt maka ada jaminan bahwa Dia
akan memudahkan segala urusan baik kita.
5. Dilapangkan
Rizkinya
Rizki adalah segala hal yang manfaat baiknya kembali
kepada kita. Termasuk dalam kategori rizki adalah harta, kesehatan, ilmu,
kesempatan dan peluang. Jadi rizki tidak terbatas pada harta.. Allah swt
menjanjikann kepada mereka yang bertakwa untuk mendapatkan kemudahan jalan
keluar termasuk di dalamnya jalan meraih rizki.
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya “. [QS. Ath-Thalaq (85)
: 2-3)
6. Tergapainya
Syurga dan Kenikmatan Akherat
Allah swt memberikan informasi kepada kita tentang orang-orang
yang sukses dengan sebenar-benarnya sukses, mereka yang kesuksesanya terbawa
sampai akherat, dan di antara mereka adalah pribadi bertakwa, demikianlah firman Allah swt dalam Surah
An-Nur ayat yang ke-52, yang artinya :
“Dan barang
siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa
kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. [QS. An-Nur (24) : 52]
Orang yang benar-benar mendapat kemenangan adalah yang
menang di kehidupan akherat, dan mereka akan diberi kedudukan yang tinggi dan
ditempatkan di tempat yang mulia, tempat yang sudah disediakan Allah swt untuk
mereka, mereka yang takut kepada Allah swt disebabkan dosa-dosa yang pernah
dikerjakannya serta memelihara diri dari
segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi.
Dalam ayat yang lain Allah saw juga memberikan kabar
gembira kepada yang bertaqwa.
“Syurga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa”. [QS. Ali Imran (3) : 133]
7. Mendapat
Pengajaran dari Allah swt
Orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt akan
senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah melalui Al-qur’an, karena memang
Al-Qur’an adalah penunjuk bagi orang-orang bertaqwa. Seperti yang tertulis
dalam surat Qs. Al-Baqarah(2) : 282, yang artinya :
“Dan
bertakwalah kepada Allah; Allah akan
mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Qs. Al-Baqarah(2) : 282MENGAPA TIDAK BOLEH TIDUR TERLALU MALAM
Tidur malam - Diantara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah, beliau tidak suka begadang. Jika tidak ada urusan penting –baik tentang
dakwah ataupun jihad- maka beliau menyegerakan tidur setelah shalat Isya’
kemudian bangun di pertengahan malam atau sepertiga malam untuk shalat tahajjud
atau qiyamullail.
Selain memudahkan tahajjud, ternyata kebiasaan tidak tidur terlalu malam juga memiliki banyak manfaat medis yang baru diketahui di zaman
modern ini. Sebaliknya, orang yang tidur terlalu malam terancam bahayakesehatan sebagai berikut:
1. Sistem Imun Melemah
Tidur terlalu malam ternyata berpengaruh rusaknya sel-sel
darah putih. Akibatnya kekebalan tubuh menjadi melemah dan rentan terhadap
serangan berbagai penyakit.
2. Diabetes
Tidur terlalu malam juga merusak hormon di tubuh. Akibatnya
tubuh tidak toleran terhadap glukosa karena jumlah insulin menurun. Orang yang
tidur terlalu malam menjadi lebih rentan terhadap penyakit Diabetes.
3. Sakit Kepala Hingga Kerusakan Otak
Tidur terlalu malam membuat tubuh tidak bisa beristirahat
dengan baik. Meskipun waktu tidurnya sama, katakanlah lima jam, orang yang
tidur sebelum tengah malam dan bangun sepertiga malam terakhir akan merasakan
kondisi fisik yang lebih fit. Sebaliknya, tidur larut malam membuat istirahat
tidak efektif. Ketika bangun kepala terasa berat, itulah tanda gegar otak kecil
sedang menyerang. Jika dibiasakan, terus menerus dalam waktu berkepanjangan,
kerusakan otak bisa mengancam.
4. Kanker Hati
Dintara penyakit berbahaya akibat tidur terlalu malam adalah
kanker hati. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam situs resmi UGM Fakultas
Kedokteran Bagian Radiologi. Bahwa penelitian para dokter di National Taiwan
Hospital menemukan bahwa tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang merupakan
penyebab utama kerusakan hati.
![]() |
| Ilustrasi : kanker hati |
Subhanallah... demikianlah hikmah medis dari salah satu
kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha
menjelaskan kebiasaan beliau ini:
مَا نَامَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَبْلَ الْعِشَاءِ وَلَا سَهِرَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah tidur
sebelum waktu isya' dan tidak pernah begadang setelahnya. (HR. Ahmad; shahih)
Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan dalam Zadul Ma'ad:
"Termasuk kebiasaan beliau adalah tidur di awal malam dan bangun di bagian
akhirnya. Terkadang beliau begadang di awal malam untuk mengurusi berbagai
kepentingan orang-orang miskin."
Semoga kita dimudahkan untuk meneladani beliau, dan
mendapatkan banyak manfaat dan hikmah berkat meneladani beliau.
Subscribe to:
Comments (Atom)



